Cianjur, 6 Desember 2012
“Baca
antologi cerpen, Gilalova5_Curhat Anak Bangsa. Ada beberapa karya yang kurang
banget deh… hehe… gile, bisa terbit aja… hadeuh!” Najm mengirimiku sms.
“Baru
saja aku berpikir mendalam, merenungkan kehebatan pikiran kawan-kawan FLP
Cianjur, terutama dirimu. Kita telah memiliki standar tinggi tentang “karya
bagus” sementara kita baca karya-karya yang terbit tidak memuaskan. Maka,
tinggal selangkah lagi menuju kesuksesan. Gencarkan motto kita, MARI BERKARYA. Show the world, that we can do better than
else!”
“Hohoho…
siph, keren! Mari…”
Aku
tertegun karena kata-kataku sendiri. Tak dapat kusangkal, aku belum melahirkan
satu buku pun. Ini ancaman! Ah, aku tak mau melanjutkan kepedihanku. Jadi,
palingkan mukaku sekarang ke meja kerja. Aku belum menjadi Penulis, tetapi aku
Sipenikmat bacaan, pikirku.
Buku di
hadapanku kini, Stones Into School (Greg Mortenson), Samita (Tasaro) dan Mary
(Marek Halter). Aku meminjam semuanya dari Rumah Baca Buku Kita malam kemarin.
Seperti biasa, Najm pemilik perpustakaan mempersilakan aku melahap semuanya
dengan penuh harap, aku dapat berbagi hasil bacaanku.
“Hari
ini, aku selesai membaca, Mary. Lebih tepatnya, terpaksa menyelesaikannya.
Seperti seorang rakus yang melahap makanan di mejanya tanpa mengindahkan
aturan.” Kali ini aku yang mengirim sms.
“Naha terpaksa?” tanya Najm.
“Hem, aku
sedang rakus, mencari yang kubutuhkan meski belum tahu persisnya apa. Aku tidak
benar-benar ingin tahu setiap detail isinya. Aku hanya penasaran bagaimana “syetan”
yang menghidupkan makhluk-makhluk dalam kertas itu menuliskannya. Mary. Buku
yang sangat hidup dan memerangi keyakinan.”
Aku yakin
Najm melongo. Terutama dengan istiah “syetan” yang kupakai. Siapapun boleh
tidak suka dan silakan ganti istilah yang sepadan_yang lebih baik. Sementara
aku akan melanjutkan bacaan di buku ke dua, karya penulis Indonesia. Samita.
Tahun 2010, aku pernah menemui sang penulis di Saungnya, di punggung Gunung
Geulis, Jatinangor. Dan aku mengaguminya.
“Nafas
Kristiani kah?” Najm mengusikku. Akhirnya aku urungkan niat untuk membaca dan
lebih memilih sahabat untuk kulayani.
“Buku
Mary dilahirkan dengat sangat hidup. Dan karya-karya seperti inilah yang
berpotensi menjadi penggerak.”
“Wah, wah,
aku salah beli kah? Maksud penggerak di sini bagaimana?”
“Ini
pembual yang menciptakan Maria melalui diri Mary dan bayinya yang tak berbapak,
melainkan Tuhan mereka, Yahweh. Intinya, buku ini menekankan, wanita boleh
tidak menikah seumur hidupnya. Ajaran ini diyakini tokoh utama, Mary, sebagai teladan
dalam seluruh isi buku.”
“Aku
pikir tidak salah beli. Sudah ada yang mengatur, agar kita mengetahui isinya.
Aku sangat berterima kasih Teteh sudah meminjamkan.”
Tak ada
lagi sms masuk. Aku tahu sekarang waktunya masuk kelas. Dan aku bersemangat mengetik
Catatan Harian sambil mengawasi anak-anak yang sedang
UAS.
***
“Layaknya
sebuah kisah yang mengubah nasib dunia, buku ini mengandung kemegahan sejarah
yang ditulis dengan intensitas mengagumkan sampai masuk ke dalam alam pikiran
karakter-karakternya. Sebuah epik yang tak boleh dilewatkan.” Inilah testimony
Andrea Hirata. Dan buku ini Best seller Perancis: 100.000 eksemplar dalam 2
bulan. Siapa yang tidak tergiur utuk membeli? (Najm) dan membacanya (Aku).
Selain Andrea Hirata, testimony mengagumkan dari orang-orang hebat lainnya pun
ada.
Terbukti.
Aku hanyut dalam bacaan, sejak paragraph pertama pada Prolog. Mary, Joachim,
Barabas dan Abdias sangat membekas dalam ingatan. Juga keseluruhan cerita yang
amat hidup, aku benar-benar suka sampai terlena.
Berharap
kawan-kawan dapat membacanya pula. Meskipun, bukan roman Islami. Ambil yang
baik, buang yang buruk. Semoga bermanfaat.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar