SAMITA
Motivasiku sederhana, aku meminjam semua buku-buku ini untuk dikembalikan dalam waktu seminggu. Jika tidak, maka akan kena denda. Itulah yang Pusda ajarkan padaku. Tapi untunglah aku sudah tidak berurusan dengan Pusda dan denda-denda. Namun, ajarannya sangat membekas. Aku bersyukur.
Kembali ke Samita. Aku baru sampai pada halaman 143. Belum banyak yang bisa kuceritakan. Aku hanya belajar bagaimana cara penulis menyajikan bacaan, tanpa menghapal detail isinya.
Begini, aku salut dengan deskripsinya, tapi jujur saja bagiku kurang menantang. Dalam satu bab, perkembangan karakter tokoh dan konfliknya seolah tersendat oleh detail deskripsi dan wawasan sang pengarang. Pikirku, mungkin akan lebih gereget jika diiringi dengan konflik yang membuat penasaran. Tokohnya dibuat tak terduga dan …hm… biar kulanjutkan dulu bacaanku.
Aku keliru! Sekali lagi, aku sangat keliru! Malam ini, aku baru selesai melahap bab dua,
Da-Ta-Sa-Wa-La, setelah bab satu, Ha-Na-Ca-Ra-Ka, tadi siang. Sambil bergelut dengan rutinitas, aku menikmatinya dengan sungguh-sungguh. Tasaro, aku semakin mengaguminya.
Cianjur, 9 Des 2012
Pagi, matahari cerah secerah pikiranku usai menutup buku Samita. Banyak hal istimewa yang mungkin tak terekam di sini. Tapi tiga hal tentang Samita yang mungkin ingin selalu kubawa. Menjaga cinta hakiki terhadap Thian/Allah, menjaga kekhusyuan sholat, dan berani bertarung sampai mati.
“Apalah arti hidup dalam seribu kata takut.”
Novel Historical Fiction SAMITA: Bintang Berpijar di Langit Majapahit (DAR! Mizan, 2004) ini adalah karya perdana Tasaro yang diterbitkan DAR! Mizan di bawah Lini Sahabat Remaja Muslim.
Bayangkan! Karya perdana, sehebat ini?
Cianjur, 07 Des 2012
SAMITA,
artinya bintang_nama aslinya Hui Sing. Dia murid perempuan Cheng Ho yang
terkenal itu. Lagi-lagi tokoh utamanya menceritakan wanita dari sejarah. Dan
aku suka.
Aku nggak
nyangka, buku Mary yang kemarin tebalnya 363 halaman, dan sekarang Samita 480
halaman. Setelah ini, Stoner Into School 475 halaman. Jadi, aku simpulkan ini
tingkat prestasi bacaku pekan ini. Dengan catatan aku tidak mengindahkan
aturan. Hanya melahap bacaan dengan rakus, karena tidak merasa khawatir akan
ditanyakan isinya oleh siapapun_seperti anak-anak yang harus ulangan di
sekolahan.
Motivasiku sederhana, aku meminjam semua buku-buku ini untuk dikembalikan dalam waktu seminggu. Jika tidak, maka akan kena denda. Itulah yang Pusda ajarkan padaku. Tapi untunglah aku sudah tidak berurusan dengan Pusda dan denda-denda. Namun, ajarannya sangat membekas. Aku bersyukur.
Kembali ke Samita. Aku baru sampai pada halaman 143. Belum banyak yang bisa kuceritakan. Aku hanya belajar bagaimana cara penulis menyajikan bacaan, tanpa menghapal detail isinya.
Begini, aku salut dengan deskripsinya, tapi jujur saja bagiku kurang menantang. Dalam satu bab, perkembangan karakter tokoh dan konfliknya seolah tersendat oleh detail deskripsi dan wawasan sang pengarang. Pikirku, mungkin akan lebih gereget jika diiringi dengan konflik yang membuat penasaran. Tokohnya dibuat tak terduga dan …hm… biar kulanjutkan dulu bacaanku.
Aku keliru! Sekali lagi, aku sangat keliru! Malam ini, aku baru selesai melahap bab dua,
Da-Ta-Sa-Wa-La, setelah bab satu, Ha-Na-Ca-Ra-Ka, tadi siang. Sambil bergelut dengan rutinitas, aku menikmatinya dengan sungguh-sungguh. Tasaro, aku semakin mengaguminya.
Bab
pertama memang agak menjemukkan, terutama bagi orang yang tak sabaran
sepertiku. Namun, justru bab pertamalah yang amat menentukan apakah pembaca
akan memilih lanjutkan, atau tutup buku. Dengan telaten dan penuh kesabaran
penulis menghantarkan pembaca pada kepedulian. Kenapa aku harus meneruskan
bacaan ini? Karena aku peduli pada nasib tokoh-tokoh yang karakternya menarik
hatiku. Samita, bagaiamana ujungnya?
Pada bab
dua, penulis menyibukkanku dengan perkembangan karakter juga konflik yang
meluap-luap. Merasa apa yang kucari telah terpenuhi, penulis dengan lihai
menambah tenaga dalamnya untuk mendorongku meneruskan bacaan dengan rasa
penasaran yang lebih. Penuh adegan Action. Seolah benar-benar sedang menoton
laga sinema di film-film Cina. Tokoh yang bertambah, setting yang
berpindah-pindah dan suasana yang diaduk dengan piawai membuat pembaca nyaman.
Tidak terlalu lelah juga tidak membuat lengah barang seharipun. Aku tak sabar
ingin tahu endingnya tanpa meloncat bab. Alasannya, karena banyak tipuan mewah
yang tak mau kulewatkan begitu saja. Rupanya memang benar apa yang kudengar
dari M.Shoffi pada pecan FLP Cjr kemarin_saat mengkaji puisi_bahwa pembaca
senang ditipu.
Cianjur, 9 Des 2012
Pagi, matahari cerah secerah pikiranku usai menutup buku Samita. Banyak hal istimewa yang mungkin tak terekam di sini. Tapi tiga hal tentang Samita yang mungkin ingin selalu kubawa. Menjaga cinta hakiki terhadap Thian/Allah, menjaga kekhusyuan sholat, dan berani bertarung sampai mati.
“Apalah arti hidup dalam seribu kata takut.”
Novel Historical Fiction SAMITA: Bintang Berpijar di Langit Majapahit (DAR! Mizan, 2004) ini adalah karya perdana Tasaro yang diterbitkan DAR! Mizan di bawah Lini Sahabat Remaja Muslim.
Bayangkan! Karya perdana, sehebat ini?
Tidak
berhenti di sini, bahkan Tasaro adalah penulis pertama yang berani menovelkan
sejarah Rosululloh Muhammad SAW.
Dia
berbakat! Dia potensial!
Aku
sampai menciut, mengakui dalam hati ingin hebat melebihi dia. Paling tidak aku
perempuan penulis Indonesia yang mirip dengan dia. Bagaiamana bisa? Aku
menggeleng-geleng kepala.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar